UNSUR-UNSUR KALIMAT




PEMBELAJARAN
UNSUR-UNSUR KALIMAT
PADA SISWA SD KELAS 6



DISUSUN OLEH
ENDRI AGUS NUGROHO (11144600158/A4)




PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
TAHUN 2011/2012

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan Hidayah kepada semua hamba-Nya. Salawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan kerabat beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah karena berkat Rahmat Allah-lah saya dapat menyelesaikan penulisan makalah sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang berjudul ““PEMBELAJARAN UNSUR-UNSUR FUNGSI KALIMAT PADA SISWA SD KELAS 6 ”.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Dr.Sunarti, M. Pd. selaku dosen pembimbing Pendidikan Bahasa Indonesia 1  yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini. Serta semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari adanya kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Dan kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi kita semua.

Yogyakarta,25 Desember 2011

Endri Agus N

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Makalah ini penulis susun atas dasar masalah-masalah yang sering dialami siswa sekolah dasar, termasuk penulis dalam menjalani proses belajar mengajar di sekolah dasar. Sekolah dasar merupakan tempat dimana anak diajari dan dididik dalam pembelajaran baik yang bersifat teori dan praktik dasar. Siswapun bukan hanya dididik untuk cerdas namun juga memiliki sikap dasar yang baik yang selanjutnya akan lebih ditingkatkan lagi di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas bahkan sampai Perguruan Tinggi.
 Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional kita, bahasa yang sangat penting sekali bagi kita semua untuk mempelajarinya. Banyak siswa sekolah dasar bahkan mahsiswa yang tidak memahami atau bahkan tidak mengerti tentang unsur-unsur dalam sebuah kalimat, tidak hanya hal itu saja penguanaan unsur kalimat yang tidak benar masih banyak ditemukan dalam tulisan, hal itu sangat mempengaruhi baik buruknya karangan ilmiah seseorang khususnya mahasiswa karena tugas akhir mahasiswa adalah membuat karangan ilmiah. Dari hal itulah penulis mencoba mencari beberapa sumber mengenai unsur-unsur fungsi kalimat untuk siswa sekolah dasar sebagai landasan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu kami susun menjadi sebuah makalah.
Untuk selanjutnya semoga makalah yang disusun ini dapat bermanfaat bagi siswa, para calon guru ataupun mahasiswa untuk memehami lebih dalam dan dapat membawa mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan  mengenai unsur-unsur fungsi dalam sebuah kalimat untuk mengembangkan peranannya dimasa yang akan datang.

2. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang ditulis di atas mengapa makalah ini dibuat ada beberapa rumusan masalah yang mendasar antara lain:
a.       Apa yang dimaksud fungsi unsur kalimat?
b.      Apa hubungan unsur kata terhadap sebuah kalimat?
c.       Mengapa unsur-unsur pada kalimat harus dipahami?
d.      Apa ciri masing-masing unsur kalimat?
e.       Bagaimana cara merumuskan unsur pada sebuah kalimat?

3.TUJUAN PENULISAN
Dari rumusan masalah di atas bahwa ada beberapa tujuan yang penulis inginkan antara lain:
a.       Mengetahui apa yang di maksud dengan unsur kalimat.
b.      Mengetahui hubungan unsur kata pada kalimat.
c.       Memahami unsur-usnsur kalimat dalam penulisan.
d.      Mengetahui ciri unsur masing-masing kaliamat.
e.       Mengetahui cara merumuskan unsur-unsur kalimat pada kalimat.

3. MANFAAT
http://4.bp.blogspot.com/-EFVyDpil5gk/T21_7DDEH5I/AAAAAAAAA0U/RhykpdBvmuE/s1600/kecoa.pnghttp://2.bp.blogspot.com/-c7GVo0Mm3zk/T21_fEWpoeI/AAAAAAAAA0E/lzS02OuwydA/s1600/belalang+1.png
Penulis berharap dengan ditulisnya makalah ini dapat berguna bagi siswa terlebih pada siswa sekolah dasar karena sekolah dasar merupakan pendidikan awal sehingga menjadi tonggak atau landasan untuk mencapai ke jenjang selanjutnya sampai keperguruan tinggi karena pada masa pembelajaran akhir di perguruan tinggi tugas mahasiswa adalah menyusun karangan ilimiah yang tidak lepas dari unsur-unsur kalimat yang dapat mempengaruhi susunan kalimat sehingga menjadi suatu kalimat yang baik dan efektif.























BAB II
UNSUR-UNSUR DALAM KALIMAT

A. PENGERTIAN KALIMAT DAN UNSUR KALIMAT
Kalimat adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang digabungkan dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh sehingga menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik,turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Untuk wujud tulisan berhuruf latin kalimat di mulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), anda tanya(?) dan tanda seru(!).  
Dalam suatu kalimat yang baik harus memiliki unsur subjek (S) dan predikat (P) atau sering juga disebut fungsi sintaksis. Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku terdiri dari sekurang-kurangnya atas dua unsur, yakni S dan P. Unsur yang lain (O, Pel, dan Ket) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.

B. HUBUNGAN UNSUR KALIMAT DENGAN KALIMAT
Ditegaskan bahwa suatu kalimat yang baik memiliki unsur subjek dan predikat baik disertai objek pelengkap atau keterangan maupun tidak, tergantung dari kata kerja predikat(verba). Pada suatu kalimat jika tidak memeiliki predikat dalam kalimat itu maka tidak disebut sebagai kalimat melaikan frasa. Predikat dalam hal ini dapat berupa kata sifat atau kata benda.
Pengucapan lisan unsur subjek dan predikat biasanya ditandai dengan nada intonasi pengucapan. Relasi dalam pengucapan lisan ini sering disebut sebagai relasi predikatif yaitu relasi yang memperlihatan hubungan antara subjek dan predikat. Sebaliknya suatu unsur disebut sebagai frasa  apabila terdapat dua kata atau lebih yang tidak ada predikat dalam kata tersebut dan satu dari kata-kata itu sebagai inti serta yang lainya sebagai penjelas. Biasanya frasa itu mengisi tempat subjek, predikat, objek, pelengkap atau keterangan. Relasi kata yang menjadi inti dan kata yang menjadi penjelas ini dinamakan sebagai atributif.
Jika dituliskan, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Dengan kata lain, untaian kata yang diawali dengan huruf kapital pada kata pertama dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya adalah kalimat menurut pengertian kaidah ejaan.Untuk mengecek apakah kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat kaidah tata bahasa, perlu dikenal ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat. Selain itu pengenalan ciri-ciri unsur kalimat ini juga berperan untuk menguraikan kalimat atas unsur-unsurnya.
C. UNSUR DALAM KALIMAT
Untuk dapat memahami dan dapat merumuskan bahwa sebuah kalimat terdiri beberapa unsur kalimat atau unsur yang menyusun sebuah kalimat didalam kamus bahasa indonesia unsur kalimat sering disebut sintaksis atau jabatan kata. Ada 5 unsur dalam kalimat menurut jabatannya yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket)
1.SUBJEK
Subjek (S) adalah bagian dari sebuah kaimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok(benda), sesuuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal atau pokok pembicaraan. Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat. Dengan mengetahui ciri-ciri subjek secara lebih terperinci, kalimat yang dihasilkan dapat terpelihara strukturnya.
1.      Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa
Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan “apa” atau “siapa” yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata tanya “siapa”. Jika jawaban pertanyaan itu tidak logis berarti kalimat itu tidak memeiliki subjek. Beberapa contoh kalimat yang tidak memeiliki subjek karena pelakunya tidak jelas
·         Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
(Yang benar ialah siswa sekolah dilarang masuk)
·         Di sini melayani resep obat generik
(Yang benar ialah Apotek melayani resep obat generik)
2.      Disertai Kata Itu
Kebanyakan subjek dalam bahasa Indonesia bersifat takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata “itu”. Subjek yang sudah takrif misalnya nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain dan juga pronomina tidak disertai kata itu.
3.      Didahului Kata Bahwa
Di dalam kalimat pasif kata “bahwa” merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata “bahwa” juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan kata “adalah” atau “ialah”.
4.      Mempunyai Keterangan Pewatas Yang
Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih lanjut dengan menggunakan penghubung “yang”. Keterangan ini dinamakan keterangan pewatas.
5.      Tidak Didahului Preposisi
Subjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek.
6.      Berupa Nomina atau Frasa Nominal
Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya, disertai kata penunjuk itu.
Contoh:
Ø  Pamanku sedang mengecat.
Ø  Meja kepala sekolah besar.
Ø  Yang berbaju batik itu dosen saya.
Ø  Berjalan kaki menyehatkan badan.
2. PREDIKAT
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana S (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain memberi tahu tindakan atau perbuatan S, prediksi dapat pula menyatakan sifat, situasi, status, ciri, atau jati diri S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Ciri-ciri predikat secara lebih terperinci.
1.      Jawaban atas Pertanyaan Mengapa atau Bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana” adalah predikat kalimat. Pertanyaan sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa nomina penggolong (identifikasi). Kata tanya berapa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa numeralia (kata bilangan) atau frasa numeralia.
2.      Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata “adalah” atau “ialah”. Predikat itu terutama digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.
3.      Dapat Diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata merupakan.
4. Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
5. Unsur Pengisi Predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina.
Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan).
Contoh:
Ø  Kuda meringkik.
Ø  Ibu sedang tidur siang.
Ø  Putrinya cantik jelita.
Ø  Kota Jakarta dalam keadaan aman.
Ø  Kucingku belang tiga.
Ø  Rumah pak Hartawan lima.
Contoh di bawah ini tidak memilik P karena tidak ada kata-kata yang menunjuk perbuatan, sifat, keadaan, ciri dan status pelaku/bendanya.
Ø  Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
Ø  Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
Ø  Bandung yang terkenal sebagai kota kembang.
3.OBJEK
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Objek diisi oleh nominal, frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu dibelakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya objek.
Sebagai contoh
Ø  Nurul menimang..............(bayinya)
Ø  Arsitek merancang ........... (gedung bertingkat)
Ø  Juru masak merebus..........(ayam kampung)
Jika predikat diisi oleh verba intransitif, maka objek tidak diperlukan lagi.
Sebagai contoh
Ø  Paman sedang tidur.
Ø  Laptopku rusak.
Ø  Tamunya pergi.
Obyek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi sunjek jika kalimatnya
dipasifkan.
Ø  Taufik Hidayat / mengalahkan / Lin Dan
S                p                      O
Ø  Lin Dan / dikalahkan / oleh Taufik Hidayat.
S                p                      O
Ø   Ibu maya / menipu / paman saya.
S          P          O
Ø   Paman saya / ditipu / Ibu Maya.
S                P                O
Sehingga dapat katakan bahwa unsur kalimt dikatakan sebagai objek jika memiliki beberapa ciri antara lain
1.      Objek berada di belakang predikat.
Obyek hanya berada di belakan predikat dan tidak mungkin berada mendahului predikat.
2.      Dapat menjadi subjek bila menjadi kalimat pasif.
Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur Objek pada kalimat aktif menjadi Subjek pada kalimat pasif yang disertai perubahan verba predikatnya.
3.      Tidak didahului preposisi.
Objek yang selalu berada dibelakang predikat tidak dapat dapat didahului preposisi. Dengan kata lain antara predikat dan objek tidak dapat disisipi preposisi.
4.      Didahului kata bahwa.
Anak kalimat pengganti nomina  ditandai dengan kata ”bahwa” dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.
4.   PELENGKAP
Pelengkap (pel) atau komplemen adalah bagian yang melengkapi P. Letak pelengkap di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi Pel dan O juga, yaitu dapat juga berupa nominal, frase nominal, atau klausa. Namun, antara pelengkap dan O terdapat perbedaan. Perhatikan contoh di bawah ini...
Ø  Presiden Sukarno // membacakan // UUD45.
S                            P                      O
Ø  Banyak parpol // berlandaskan // Pancasila.
S                P                      Pel
Ø  UUD 45 // dibacakan // oleh Presiden Sukarno.
S                P                      O
Perbedaan yang mendasar dari contoh di atas dapat dilihat bahwa Pelengkap tidak dapat dipsifkan seperti Objek. Pancasila sebagai pelengkap pada conrtoh no. 2 di atas tidak dapat dijadikan sebagai Subjek.
Contoh:
Ø  Pancasila dilandasi oleh banyak parpol.
Kata UUD 45 pada kalimat no.1 dapat diubah sebagai Subjek dalam kalimat pasif.
Contoh:
Ø  UUD 45 dibacakan oleh Presiden Sukarno.
Objek dan pelengkap juga dapat dibedakan dari jenis pengisianya. Selain nomina dan frase nominal, pelengkap dapat pula diisi oleh frase adjektival dan frase preposisional. Letak pelengkap tidak selalu persis di belakang predikat. Bila dalam kalimat itu terdapat objek letak pelengkap berada dibelakang objek sehingga urutan penulisannya menjadi S-P-O-Pel.
Ø  Sutardji // membacakan// pengagumya// puisi kontemporer.
S                P                      O                     Pel
Ø  Ibu // mendongengkan// Rina //cerita si kancil.
S                P               O                Pel
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa pelengkap mempunyai ciri:
Ø  Bersifat wajib karena melengkapi makna verba pada kalimatnya.
Ø  Menempati posisi di belakang predikat.
Ø  Tidak didahului preposisi.
Dari ciri di atas terdapat kesaman antara objek dan pelengkap namun  perbedaan terdapat dalam kalimat pasif Pelengkap tidak bisa menjadi subjek ada kalimat pasif. Jika terdapt objek dan pelengkap pada kalimat aktif maka objeklah yang dapat menjadi subjek pada kalimat pasif.
5..KETERANGAN.
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai S, P, O, dan Pelengkap. Uansur kalimat yang memberiakn informasi lebih lanjut yang dinyatakan dalam kalimat. Misalnya tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Posisi mereka dapt di awal, di tengah, dan akhir kalimat.
Kalimat yang biasa menjadi keterangan adalah frase nominal, frase preposional, adverbal( keterangan), atau kloausa (anak kalimat). Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap.tentang, oleh, dan untuk. Sedang keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung seperti, ketika, karena, meskipun, supaya, jika dan sehingga.
Berikut lebih detail ciri unsur keterangan antara lain:
1.      Bukan unsur utama
Merupakan unsur ta,bahan yang kehadiranya dalam struktur kalimat bersifat tidak wajib.
2.      Tidak terikat posisi
Unsur kalimat yang memiliki kebebasan tempat. Keterangan dapat Di awal, tengah, atau akhir kalimat, atau antara subjek dan predikat.
3.      Jenis Keterangan.
Ada beberapa keterangan yang dibedakan berdasarkan perannya di dalam kalimat:
1.      Keterangan Waktu
Dapat berupa frasa ,kata, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin,besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Untuk keterangan waktu yang berupa frasa merupakan untain katayang menyatakan waktu, seperti kemarin sore, hari senin, 8 juni, dan minggu depan. Sedang untuk keterangan waktu yang berupa anak kalimat di tandai oleh konjjungtor yang menyatakan waktu, seperti, setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.
Contoh:
Ø  Siswoko belajar bahasa indonesia malam ini.
Ø  Andi belajar setelah makan malam.
Ø  Baron pergi ketika hujan turun.
Ø  Andi mandi sesudah berolahraga.
2.      Keteranagan Tempat.
Keterangan tempat berupa frasa yang menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi seperti di, pada, dan dalam.
Contoh:
Ø  Ibu menaruh pisau diatas meja dapur.
Ø  Andi menyimpan uang dalam lemari.
Ø  Belalang itu hingap pada daun jambu.
3.      Keterangan Cara.
Dapat berupa kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menerangkan cara. Keterangan cara yang berupa kata ulang merupakan perulangan adjektiva. Keterangan cara frasa di tandai dengan kata dengan atau secara. Untuk keterangan cara yang berupqa anak kalimat ditandai oleh kata dengan atau dalam.
Contoh:
Ø  Polisi menyelidiki kasus itu dengan hati-hati.
Ø  Pak amir berjalan perlahan-lahan.

4.      Keterangan Sebab.
Keterangan yang berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan sebab berupa frasa ditandai oleh kata karena atau lantaran yang diikuti nomina atau frasa nomina. Untuk keterangan berupa ank kalimat ditandai dengan kata konjungtor karena atau lantaran.
Contoh:
Ø  Karena malas belajar anak itu tidak naik kelas.
Ø  Karena hujan doni memakai mantel.
5.      Keterangan Tujuan.
Keteranga berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai kata untuk atau demi,sedang untuk keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai konjungtor supaya, agar,dan atau.
Contoh:
Ø  Anak itu rela berkorban demi orang tuanya.
Ø  Bayu berangkat untuk uang itu.
Ø  Maman belajar supaya dapat IP 3.
Ø  Andi tidur lebih awal agar bangun pagi.
6.      Keteranagan aposisi
Keterangan ini memberi penjelasan nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah(--) atau tanda kurang.
Contoh:
Ø  Dosen saya, Bu Yuni, terpilih sebagai dosen teladan.
Ø  Bapak saya, Pak doni, terlihat semakin cepat tua.
7.      Keterangan Tambahan.
Disini keterangan berfungsi memberi penjelasan nomina subjek ataupun objek, tetapi berbeda dari keterangan aposisi. Kata Aposisi dapat mengantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat mengatikan unsur yang diterangkan. Contoh
Ø  Dewa, mahasiswa tingkat enam, mendapat beasiswa.
Ø  Pak Bagos. Guru SD, mendapat gelar S2.
Keterangan “tingkat enam” dan “Guru SD” tidak dapat mengatikan unsur yang diterangkan yaitu kata Dewa dan Pak Bagos.

8.      Keterangan Pewatas.
Keterangan yang bertujuan memberikan batasan nomina, misalnya, subjek, predikat, objek,keteranagan atau pelengkap. Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan.
Contoh
Ø  Murid yang mendapat rangking tiga keatas mendapat beasiswa.
Ø  Juara 4 ke bawah mendapat uang pembinaan.
Dijelaskan bahwa bukan semua murid tapi hanya siswa yang mendapat
rangking tiga keatas.




















BAB III
PENUTUP

Unsur kalimat dalam bahasa Indonesia sangatlah penting bagi kita semua.. Penulisan susunan kata yang tidak tertata secara rapi sesuai unsur kalimat akan mengakibatkan suatu kalimat yang harusnya baik menjadi jelek. Apabila seseorang penulis yang baik mereka harus mengetahui unsur kalimat yang baik pula. Demikian mungkin yang saya bisa sampaikan dan saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Karena keterbatasan pengetahuaan dan kurangnya rujukan bagi kami.
 Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan  penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga dengan makalah yang saya buat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya  tentang macam-macam unsure kalimat dan penerapannya. Tidak hanya dapat memehai tapi juga dapat sebagi landasan untuk menulis kalimat yang benar.
















DAFTAR PUSTAKA

Rahardi, Kunjana. 2010. Kalimat baku untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta:
Universitas Atma Jaya.
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas indonesia.
Santosa, Puji, dkk. 2003. Materi dan Pembelajaran bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://www.google.co.id/search?q=STRUKTUR+KALIMAT+BAHASA+INDONESIA&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

Ditulis Oleh : Endri Agus // Desember 10, 2012
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

VISITE

Diberdayakan oleh Blogger.