UNSUR-UNSUR KALIMAT
PEMBELAJARAN
UNSUR-UNSUR
KALIMAT
PADA
SISWA SD KELAS 6
DISUSUN OLEH
ENDRI AGUS NUGROHO
(11144600158/A4)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN 2011/2012
KATA PENGANTAR
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Dr.Sunarti, M. Pd. selaku dosen pembimbing Pendidikan Bahasa Indonesia 1 yang telah membimbing dalam
penyusunan makalah ini. Serta semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari adanya
kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik
yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Dan kami
berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi
kita semua.
Yogyakarta,25
Desember 2011
Endri Agus N
BAB
I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Makalah
ini penulis susun atas dasar masalah-masalah yang sering dialami siswa sekolah
dasar, termasuk penulis dalam menjalani proses belajar mengajar di sekolah
dasar. Sekolah dasar merupakan tempat dimana anak diajari dan dididik dalam
pembelajaran baik yang bersifat teori dan praktik dasar. Siswapun bukan hanya
dididik untuk cerdas namun juga memiliki sikap dasar yang baik yang selanjutnya
akan lebih ditingkatkan lagi di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah
Atas bahkan sampai Perguruan Tinggi.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional
kita, bahasa yang sangat penting sekali bagi kita semua untuk mempelajarinya.
Banyak siswa sekolah dasar bahkan mahsiswa yang tidak memahami atau bahkan
tidak mengerti tentang unsur-unsur dalam sebuah kalimat, tidak hanya hal itu saja penguanaan
unsur kalimat yang tidak benar masih banyak ditemukan dalam tulisan, hal itu sangat
mempengaruhi baik buruknya karangan ilmiah seseorang khususnya mahasiswa karena
tugas akhir mahasiswa adalah membuat karangan ilmiah. Dari hal itulah penulis mencoba
mencari beberapa sumber mengenai unsur-unsur fungsi kalimat untuk siswa sekolah
dasar sebagai landasan siswa ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu kami susun menjadi sebuah makalah.
Untuk
selanjutnya semoga makalah yang disusun ini dapat bermanfaat bagi siswa, para
calon guru ataupun mahasiswa untuk memehami lebih dalam dan dapat membawa
mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan
mengenai unsur-unsur fungsi dalam sebuah kalimat untuk mengembangkan peranannya
dimasa yang akan datang.
2. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang ditulis di atas mengapa makalah ini dibuat ada beberapa rumusan masalah yang mendasar antara
lain:
a. Apa yang dimaksud fungsi unsur kalimat?
b. Apa hubungan unsur kata terhadap sebuah kalimat?
c.
Mengapa
unsur-unsur pada kalimat harus dipahami?
d.
Apa ciri masing-masing unsur kalimat?
e. Bagaimana cara merumuskan unsur pada sebuah kalimat?
3.TUJUAN PENULISAN
Dari rumusan masalah di
atas bahwa ada beberapa tujuan yang penulis inginkan antara lain:
a. Mengetahui apa yang di maksud dengan unsur kalimat.
b. Mengetahui hubungan unsur kata pada kalimat.
c.
Memahami
unsur-usnsur kalimat dalam penulisan.
d.
Mengetahui ciri unsur masing-masing
kaliamat.
e. Mengetahui cara merumuskan unsur-unsur kalimat pada kalimat.
3. MANFAAT
Penulis berharap dengan ditulisnya makalah ini dapat
berguna bagi siswa terlebih pada siswa sekolah dasar karena sekolah dasar
merupakan pendidikan awal sehingga menjadi tonggak atau landasan untuk mencapai
ke jenjang selanjutnya sampai keperguruan tinggi karena pada masa pembelajaran
akhir di perguruan tinggi tugas mahasiswa adalah menyusun karangan ilimiah yang
tidak lepas dari unsur-unsur kalimat yang dapat
mempengaruhi susunan kalimat sehingga menjadi suatu kalimat yang baik dan
efektif.
BAB II
UNSUR-UNSUR DALAM KALIMAT
A. PENGERTIAN KALIMAT DAN UNSUR KALIMAT
Kalimat adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang
digabungkan dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh
sehingga menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Dalam wujud
lisan kalimat diucapkan dengan suara naik,turun dan keras lembut, disela jeda,
dan diakhiri dengan intonasi akhir. Untuk wujud tulisan berhuruf latin kalimat
di mulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik(.), anda tanya(?) dan tanda seru(!).
Dalam suatu kalimat yang baik harus memiliki unsur subjek
(S) dan predikat (P) atau sering juga disebut fungsi sintaksis. Unsur
kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia lama
lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata, yaitu subjek (S),
predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa
Indonesia baku terdiri dari sekurang-kurangnya atas dua unsur, yakni S dan P.
Unsur yang lain (O, Pel, dan Ket) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak
wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
B. HUBUNGAN UNSUR KALIMAT DENGAN KALIMAT
Ditegaskan bahwa suatu kalimat yang baik memiliki unsur
subjek dan predikat baik disertai objek pelengkap atau keterangan maupun tidak,
tergantung dari kata kerja predikat(verba). Pada suatu kalimat jika tidak
memeiliki predikat dalam kalimat itu maka tidak disebut sebagai kalimat
melaikan frasa.
Predikat dalam hal ini dapat berupa kata sifat atau kata benda.
Pengucapan lisan unsur subjek dan predikat biasanya
ditandai dengan nada intonasi pengucapan. Relasi dalam pengucapan lisan ini
sering disebut sebagai relasi predikatif yaitu relasi yang memperlihatan
hubungan antara subjek dan predikat. Sebaliknya suatu unsur disebut sebagai
frasa apabila terdapat dua kata atau
lebih yang tidak ada predikat dalam kata tersebut dan satu dari kata-kata itu
sebagai inti serta yang lainya sebagai penjelas. Biasanya frasa
itu mengisi tempat subjek, predikat, objek, pelengkap atau
keterangan. Relasi kata yang menjadi inti dan kata yang menjadi penjelas ini
dinamakan sebagai atributif.
Jika
dituliskan, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda
titik, tanda seru, atau tanda tanya. Dengan kata lain, untaian kata yang
diawali dengan huruf kapital pada kata pertama dan diakhiri dengan tanda titik,
tanda seru, atau tanda tanya adalah kalimat menurut pengertian kaidah
ejaan.Untuk mengecek apakah kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat kaidah tata
bahasa, perlu dikenal ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap dan
keterangan. Kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat. Selain
itu pengenalan ciri-ciri unsur kalimat ini juga berperan untuk menguraikan
kalimat atas unsur-unsurnya.
C. UNSUR DALAM KALIMAT
Untuk
dapat memahami dan dapat merumuskan bahwa sebuah kalimat terdiri beberapa unsur
kalimat atau unsur yang menyusun sebuah kalimat didalam kamus bahasa indonesia
unsur kalimat sering disebut sintaksis atau jabatan kata. Ada 5 unsur dalam
kalimat menurut jabatannya yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap
(Pel), dan keterangan (Ket)
1.SUBJEK
Subjek (S) adalah bagian dari sebuah kaimat yang menunjukkan pelaku,
tokoh, sosok(benda), sesuuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal atau pokok
pembicaraan. Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di
samping unsur predikat. Dengan mengetahui ciri-ciri subjek secara lebih
terperinci, kalimat yang dihasilkan dapat terpelihara strukturnya.
1. Jawaban atas Pertanyaan Apa
atau Siapa
Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari
jawaban atas pertanyaan “apa” atau “siapa” yang dinyatakan dalam suatu
kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata
tanya “siapa”. Jika jawaban
pertanyaan itu tidak logis berarti kalimat itu tidak memeiliki subjek. Beberapa
contoh kalimat yang tidak memeiliki subjek karena pelakunya tidak jelas
·
Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
(Yang benar ialah siswa
sekolah dilarang masuk)
·
Di sini melayani resep obat generik
(Yang benar ialah Apotek
melayani resep obat generik)
2. Disertai Kata Itu
Kebanyakan subjek dalam bahasa Indonesia bersifat
takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata “itu”. Subjek yang sudah takrif misalnya
nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain dan juga pronomina tidak
disertai kata itu.
3. Didahului Kata Bahwa
Di dalam kalimat pasif kata “bahwa” merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak
kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata “bahwa” juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada
kalimat yang menggunakan kata “adalah” atau
“ialah”.
4. Mempunyai Keterangan Pewatas
Yang
Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi
keterangan lebih lanjut dengan menggunakan penghubung “yang”. Keterangan ini dinamakan keterangan pewatas.
5. Tidak Didahului Preposisi
Subjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam,
di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata
seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak
bersubjek.
6. Berupa Nomina atau Frasa
Nominal
Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di
samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya, disertai
kata penunjuk itu.
Contoh:
Ø Pamanku sedang mengecat.
Ø Meja kepala sekolah besar.
Ø Yang berbaju batik itu dosen
saya.
Ø Berjalan kaki menyehatkan
badan.
2. PREDIKAT
Predikat
(P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam
keadaan bagaimana S (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain
memberi tahu tindakan atau perbuatan S, prediksi dapat pula menyatakan sifat,
situasi, status, ciri, atau jati diri S. Termasuk juga sebagai P dalam kalimat
adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki S. Predikat dapat berupa
kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat
juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Ciri-ciri predikat secara lebih terperinci.
1. Jawaban atas Pertanyaan
Mengapa atau Bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang
memberikan informasi atas pertanyaan “mengapa”
atau “bagaimana” adalah predikat
kalimat. Pertanyaan sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan
predikat yang berupa nomina penggolong (identifikasi). Kata tanya berapa dapat
digunakan untuk menentukan predikat yang berupa numeralia (kata bilangan) atau
frasa numeralia.
2. Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata “adalah” atau “ialah”. Predikat itu terutama digunakan jika subjek kalimat berupa
unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.
3. Dapat Diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk
pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini
digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak
sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang
berupa nomina atau predikat kata merupakan.
4. Dapat Disertai Kata-kata
Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva
dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan.
Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya
berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan
sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
5. Unsur Pengisi Predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina.
Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa
nominal, frasa numeralia (bilangan).
Contoh:
Ø Kuda meringkik.
Ø Ibu sedang tidur siang.
Ø Putrinya cantik jelita.
Ø Kota Jakarta dalam keadaan
aman.
Ø Kucingku belang tiga.
Ø Rumah pak Hartawan lima.
Contoh di bawah ini tidak memilik P
karena tidak ada kata-kata yang menunjuk perbuatan, sifat, keadaan, ciri dan
status pelaku/bendanya.
Ø Adik saya yang gendut lagi lucu itu.
Ø Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.
Ø Bandung yang terkenal sebagai kota kembang.
3.OBJEK
Objek (O) adalah bagian kalimat yang
melengkapi predikat (P). Objek diisi oleh nominal, frasa nominal, atau klausa.
Letak objek selalu dibelakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba
yang menuntut wajib hadirnya objek.
Sebagai contoh
Ø Nurul menimang..............(bayinya)
Ø Arsitek merancang ........... (gedung bertingkat)
Ø Juru masak merebus..........(ayam kampung)
Jika predikat diisi oleh verba
intransitif, maka objek tidak diperlukan lagi.
Sebagai contoh
Ø Paman sedang tidur.
Ø Laptopku rusak.
Ø Tamunya pergi.
Obyek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi sunjek jika kalimatnya
dipasifkan.
Ø
Taufik
Hidayat / mengalahkan / Lin Dan
S p O
Ø
Lin
Dan / dikalahkan / oleh Taufik Hidayat.
S p O
Ø
Ibu maya / menipu / paman saya.
S P O
Ø
Paman saya / ditipu / Ibu Maya.
S P O
Sehingga dapat
katakan bahwa unsur kalimt dikatakan sebagai objek jika memiliki beberapa ciri
antara lain
1.
Objek
berada di belakang predikat.
Obyek hanya berada di belakan predikat dan
tidak mungkin berada mendahului predikat.
2.
Dapat
menjadi subjek bila menjadi kalimat pasif.
Perubahan dari aktif ke pasif ditandai
dengan perubahan unsur Objek pada kalimat aktif menjadi Subjek pada kalimat
pasif yang disertai perubahan verba predikatnya.
3.
Tidak
didahului preposisi.
Objek yang selalu berada dibelakang
predikat tidak dapat dapat didahului preposisi. Dengan kata lain antara
predikat dan objek tidak dapat disisipi preposisi.
4.
Didahului
kata bahwa.
Anak kalimat pengganti nomina ditandai dengan kata ”bahwa” dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat
transitif.
4. PELENGKAP
Pelengkap (pel)
atau komplemen adalah bagian yang melengkapi P. Letak pelengkap di belakang P
yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata
yang mengisi Pel dan O juga, yaitu dapat juga berupa nominal, frase nominal,
atau klausa. Namun, antara pelengkap dan O terdapat perbedaan. Perhatikan
contoh di bawah ini...
Ø
Presiden
Sukarno // membacakan // UUD45.
S P O
Ø
Banyak
parpol // berlandaskan // Pancasila.
S P Pel
Ø UUD 45 // dibacakan // oleh Presiden
Sukarno.
S P O
Perbedaan yang
mendasar dari contoh di atas dapat dilihat bahwa Pelengkap tidak dapat
dipsifkan seperti Objek.
Pancasila sebagai pelengkap pada conrtoh no. 2 di atas tidak dapat dijadikan
sebagai Subjek.
Contoh:
Ø Pancasila dilandasi oleh banyak
parpol.
Kata UUD 45 pada kalimat no.1 dapat diubah
sebagai Subjek dalam kalimat pasif.
Contoh:
Ø UUD 45 dibacakan oleh Presiden
Sukarno.
Objek dan
pelengkap juga dapat dibedakan dari jenis pengisianya. Selain nomina dan frase
nominal, pelengkap dapat pula diisi oleh frase adjektival dan frase
preposisional. Letak pelengkap tidak selalu persis di belakang predikat. Bila
dalam kalimat itu terdapat objek letak pelengkap berada dibelakang objek
sehingga urutan penulisannya menjadi S-P-O-Pel.
Ø Sutardji // membacakan//
pengagumya// puisi kontemporer.
S P O Pel
Ø Ibu // mendongengkan// Rina //cerita
si kancil.
S P
O Pel
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan
bahwa pelengkap mempunyai ciri:
Ø Bersifat wajib karena melengkapi
makna verba pada kalimatnya.
Ø Menempati posisi di belakang
predikat.
Ø Tidak didahului preposisi.
Dari ciri di
atas terdapat kesaman antara objek dan pelengkap namun perbedaan terdapat dalam kalimat pasif
Pelengkap tidak bisa menjadi subjek ada kalimat pasif. Jika terdapt objek dan
pelengkap pada kalimat aktif maka objeklah yang dapat menjadi subjek pada
kalimat pasif.
5..KETERANGAN.
Keterangan
(Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai S, P, O, dan
Pelengkap. Uansur kalimat yang memberiakn informasi lebih lanjut yang
dinyatakan dalam kalimat. Misalnya tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan
tujuan. Posisi mereka dapt di awal, di tengah, dan akhir kalimat.
Kalimat yang
biasa menjadi keterangan adalah frase nominal, frase preposional, adverbal(
keterangan), atau kloausa (anak kalimat). Keterangan yang berupa frasa ditandai
oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap.tentang,
oleh, dan untuk. Sedang keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan
kata penghubung seperti, ketika, karena, meskipun, supaya, jika dan sehingga.
Berikut
lebih detail ciri unsur keterangan antara lain:
1. Bukan unsur utama
Merupakan unsur ta,bahan yang kehadiranya dalam
struktur kalimat bersifat tidak wajib.
2. Tidak terikat posisi
Unsur kalimat yang memiliki
kebebasan tempat. Keterangan dapat Di awal, tengah, atau akhir kalimat, atau
antara subjek dan predikat.
3. Jenis Keterangan.
Ada beberapa keterangan yang dibedakan
berdasarkan perannya di dalam kalimat:
1. Keterangan Waktu
Dapat berupa frasa ,kata, atau anak
kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu,
seperti kemarin,besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Untuk keterangan
waktu yang berupa frasa merupakan untain katayang menyatakan waktu, seperti kemarin
sore, hari senin, 8 juni, dan minggu depan. Sedang untuk keterangan waktu yang
berupa anak kalimat di tandai oleh konjjungtor yang menyatakan waktu, seperti, setelah,
sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.
Contoh:
Ø Siswoko belajar bahasa indonesia
malam ini.
Ø Andi belajar setelah makan malam.
Ø Baron pergi ketika hujan turun.
Ø Andi mandi sesudah berolahraga.
2. Keteranagan Tempat.
Keterangan tempat berupa frasa yang
menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi seperti di, pada, dan dalam.
Contoh:
Ø Ibu menaruh pisau diatas meja dapur.
Ø Andi menyimpan uang dalam lemari.
Ø Belalang itu hingap pada daun jambu.
3. Keterangan Cara.
Dapat berupa kata ulang, frasa, atau
anak kalimat yang menerangkan cara. Keterangan cara yang berupa kata ulang
merupakan perulangan adjektiva. Keterangan cara frasa di tandai dengan kata dengan
atau secara. Untuk keterangan cara yang berupqa anak kalimat ditandai oleh kata
dengan atau dalam.
Contoh:
Ø Polisi menyelidiki kasus itu dengan
hati-hati.
Ø Pak amir berjalan perlahan-lahan.
4. Keterangan Sebab.
Keterangan yang berupa frasa atau
anak kalimat. Keterangan sebab berupa frasa ditandai oleh kata karena atau
lantaran yang diikuti nomina atau frasa nomina. Untuk keterangan berupa ank
kalimat ditandai dengan kata konjungtor karena atau lantaran.
Contoh:
Ø Karena malas belajar anak itu tidak
naik kelas.
Ø Karena hujan doni memakai mantel.
5. Keterangan Tujuan.
Keteranga berupa frasa atau anak
kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai kata untuk atau
demi,sedang untuk keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai
konjungtor supaya, agar,dan atau.
Contoh:
Ø Anak itu rela berkorban demi orang
tuanya.
Ø Bayu berangkat untuk uang itu.
Ø Maman belajar supaya dapat IP 3.
Ø Andi tidur lebih awal agar bangun
pagi.
6. Keteranagan aposisi
Keterangan ini memberi penjelasan
nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis keterangan ini diapit tanda
koma, tanda pisah(--) atau tanda kurang.
Contoh:
Ø Dosen saya, Bu Yuni, terpilih
sebagai dosen teladan.
Ø Bapak saya, Pak doni, terlihat
semakin cepat tua.
7. Keterangan Tambahan.
Disini keterangan berfungsi memberi
penjelasan nomina subjek ataupun objek, tetapi berbeda dari keterangan aposisi.
Kata Aposisi dapat mengantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan
tambahan tidak dapat mengatikan unsur yang diterangkan. Contoh
Ø Dewa, mahasiswa tingkat enam, mendapat
beasiswa.
Ø Pak Bagos. Guru SD, mendapat gelar
S2.
Keterangan “tingkat enam” dan “Guru
SD” tidak dapat mengatikan unsur yang diterangkan yaitu kata Dewa dan Pak
Bagos.
8. Keterangan Pewatas.
Keterangan yang bertujuan memberikan
batasan nomina, misalnya, subjek, predikat, objek,keteranagan atau pelengkap.
Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat
ditiadakan.
Contoh
Ø Murid yang mendapat rangking tiga
keatas mendapat beasiswa.
Ø Juara 4 ke bawah mendapat uang
pembinaan.
Dijelaskan bahwa bukan semua murid
tapi hanya siswa yang mendapat
rangking
tiga keatas.
BAB
III
PENUTUP
Unsur
kalimat dalam bahasa Indonesia sangatlah penting bagi kita semua.. Penulisan
susunan kata yang tidak tertata secara rapi sesuai unsur kalimat akan
mengakibatkan suatu kalimat yang harusnya baik menjadi jelek. Apabila seseorang
penulis yang baik mereka harus mengetahui unsur kalimat yang baik pula. Demikian
mungkin yang saya bisa sampaikan dan saya paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, Tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya. Karena keterbatasan pengetahuaan dan kurangnya rujukan bagi kami.
Penulis
banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya. Semoga dengan makalah yang saya buat ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca khususnya
tentang macam-macam unsure kalimat dan penerapannya. Tidak hanya dapat
memehai tapi juga dapat sebagi landasan untuk menulis kalimat yang benar.
DAFTAR
PUSTAKA
Rahardi,
Kunjana. 2010.
Kalimat baku untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta:
Universitas
Atma Jaya.
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas indonesia.
Santosa, Puji, dkk. 2003. Materi dan Pembelajaran bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.
http://www.google.co.id/search?q=STRUKTUR+KALIMAT+BAHASA+INDONESIA&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a
Post a Comment